Persatuan Alumni sebagai Jalan Pengabdian dan Aktualisasi Ajaran Ke-Bung Hatta-an
Oleh : Rd. Dwi Wahyu Sulisantoro, S.H.
Alumni Fakultas Hukum Universitas Bung Hatta Padang
Persatuan dan kesatuan alumni bukan sekadar kebutuhan organisasi, melainkan amanat moral dan historis yang melekat pada setiap lulusan Universitas Bung Hatta. Alumni lahir dari rahim perguruan tinggi yang tidak hanya mencetak sarjana, tetapi membentuk watak, nilai, dan tanggung jawab sosial. Oleh karena itu, Mubes Alumni harus dimaknai bukan hanya sebagai forum administratif, melainkan sebagai ruang konsolidasi ide, nilai, dan arah pengabdian kolektif alumni.
Dalam konteks Tri Dharma Perguruan Tinggi, persatuan alumni merupakan bentuk konkret dari pengabdian kepada masyarakat. Alumni yang bersatu memiliki daya dorong lebih kuat untuk menghadirkan manfaat nyata baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, hukum, sosial, maupun kebudayaan. Alumni yang terfragmentasi hanya akan menjadi individu-individu sukses secara personal, tetapi gagal menjelma sebagai kekuatan sosial yang berpengaruh.
Persatuan alumni bukanlah penyeragaman pikiran, melainkan penyatuan orientasi: bahwa ilmu, jejaring, dan posisi sosial yang dimiliki alumni harus diabdikan bagi kepentingan yang lebih luas. Inilah esensi pengabdian masyarakat dalam makna yang paling substantif bukan proyek seremonial, melainkan kerja berkelanjutan yang berdampak.
Sebagai alumni perguruan tinggi yang mengusung nama besar Drs Mohammad Hatta, alumni memikul tanggung jawab historis untuk menghidupkan dan menyebarluaskan ajaran ke-Bung Hatta-an dalam praksis kehidupan berbangsa.
Ajaran Bung Hatta bukan slogan, melainkan pandangan hidup:
- Demokrasi yang berakar pada akal sehat dan etika
- Keadilan sosial sebagai tujuan pembangunan
- Ekonomi sebagai alat pembebasan manusia, bukan alat penindasan
Persatuan alumni menjadi prasyarat utama agar nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai romantisme sejarah, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial yang membumi melalui advokasi kebijakan, penguatan masyarakat sipil, hingga pembelaan terhadap kelompok lemah.
Organisasi alumni adalah organisasi nirlaba, namun nirlaba tidak berarti anti-kesejahteraan. Justru sebaliknya, salah satu tujuan luhur organisasi alumni adalah meningkatkan kesejahteraan ekonomi anggotanya, tanpa terjebak pada logika kapitalisme eksploitatif.
Dalam perspektif Bung Hatta, kesejahteraan ekonomi harus dibangun di atas:
- Asas kebersamaan, bukan persaingan saling mematikan
- Kemandirian ekonomi, bukan ketergantungan
- Keadilan distribusi, bukan penumpukan modal
Karena itu, organisasi alumni idealnya mengembangkan model ekonomi kolektif: koperasi alumni, jaringan usaha bersama, inkubasi UMKM alumni, hingga solidaritas ekonomi lintas profesi. Inilah pengejawantahan nyata ekonomi kerakyatan ala Bung Hatta ekonomi yang memanusiakan manusia.
Persatuan alumni menjadi fondasi utama dari semua itu. Tanpa persatuan, ekonomi kolektif akan runtuh menjadi kepentingan kelompok kecil. Dengan persatuan, kesejahteraan menjadi hak bersama, bukan privilese segelintir orang.
Mubes Alumni Universitas Bung Hatta Padang harus menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa persatuan alumni adalah bentuk tertinggi dari pengabdian kepada almamater, kepada masyarakat, dan kepada cita-cita Bung Hatta.
Alumni yang bersatu bukan hanya menjaga warisan sejarah, tetapi menciptakan masa depan, masa depan yang adil, berdaulat secara ekonomi, dan bermartabat secara moral. Di sanalah ajaran Bung Hatta hidup bukan di buku, tetapi dalam tindakan kolektif alumni yang sadar akan tanggung jawab zamannya.
