Dulu Dicemooh Karena Anak Penambal Ban, Kini Pegawai Rutan Padang Panjang Jadi Inspirasi Generasi Muda
Padang Panjang, BeritaSumbar.ID— Pagi itu, Selasa 26 Mei 2026, udara sejuk di kawasan Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, terasa berbeda. Di lingkungan PKBM Markazul Qur’an Sumatera Barat, puluhan pelajar duduk memperhatikan seorang perempuan berseragam yang berdiri di depan ruangan. Dengan suara tenang, ia menjelaskan tentang Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Di Sekolah.
Namun sesungguhnya, perempuan itu sedang menyampaikan pelajaran hidup yang jauh lebih besar dari sekadar teori medis. Ia sedang menceritakan bagaimana luka, hinaan, dan keterbatasan bisa diubah menjadi kekuatan.
Perempuan itu adalah Sri Wahyuni, putri pertama dari pasangan Maryunis dan Erna itu lahir pada 9 Februari 1989 bertepatan dengan Hari Pers Nasional. Ia tumbuh dari keluarga sederhana di Kota Padang Panjang. Ayahnya bekerja sebagai penambal ban, sementara sang ibu mengabdikan hidup sebagai ibu rumah tangga.
Di masa kecilnya Sri bukan hanya akrab dengan hidup serba terbatas, ia juga akrab dengan rasa malu yang dipaksakan orang lain. Profesi sang ayah kerap menjadi bahan cibiran, ada tatapan merendahkan, ada ucapan yang diam-diam melukai hati seorang anak perempuan kecil yang sebenarnya hanya ingin hidup seperti anak-anak lain. Tetapi Sri memilih diam, bukan menyerah. Ia memilih menyimpan semua luka itu menjadi tenaga untuk terus berjalan.
Dibully Tak Akan Lolos Jadi Perawat
Perjalanan hidup Sri tidak berhenti diuji ketika dewasa. Saat dirinya bercita-cita menjadi perawat dan mencoba masuk sebagai pegawai di lingkungan pemasyarakatan, cibiran kembali datang. Kali ini bahkan berasal dari lingkungan keluarga sendiri.
Tubuh Sri yang tidak terlalu tinggi dianggap menjadi penghalang. Beberapa kerabat meragukan dirinya akan mampu lolos seleksi. Namun perempuan itu telah terlanjur memiliki keyakinan yang kuat. Ia sadar dirinya mungkin tidak memiliki banyak hal untuk dibanggakan secara materi ataupun fisik, tetapi ia memiliki tekad yang tidak mau kalah.
“Waktu itu saya hanya minta tolong sama Allah. Saya percaya kalau jalan itu memang untuk saya, Allah pasti bukakan,” kenang Sri dengan mata berkaca.
Dan waktu akhirnya menjawab semua keraguan itu. Pada 2010, Sri Wahyuni dinyatakan lulus sebagai Pegawai Negeri Sipil Kementerian Hukum dan HAM, yang kini menjadi bagian dari Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Penugasan pertamanya dimulai di Rumah Tahanan Negara Painan, Kabupaten Pesisir Selatan. Dari sanalah perjalanan panjang pengabdiannya dimulai.
Menyelesaikan Pendidikan di Tengah Tugas dan Keluarga, Sri bukan tipe perempuan yang cepat merasa puas. Setelah menamatkan pendidikan SD, SMP, dan SMK di Padang Panjang, ia melanjutkan Pendidikan kejenjang Diploma III Keperawatan di salah satu akademi swasta di kota itu. Kemudian melanjutkan Sarjana Keperawatan di Bukittinggi.
Kesibukan bekerja tidak membuatnya berhenti belajar. Di tengah tugas sebagai aparatur negara, Sri tetap menjalani perannya sebagai istri dan ibu dari tiga orang anak. Waktu istirahatnya sering kali habis untuk kuliah, tugas, dan keluarga.
Perjalanan itu tidak ringan, tetapi ia tetap bertahan hingga akhirnya pada tahun 2026 berhasil menyelesaikan Profesi Keperawatan (Ners). Sebuah capaian yang lahir dari perjuangan panjang seorang perempuan yang dulu pernah dianggap sebelah mata.
Dibalik Perempuan Hebat, Ada Suami yang Memilih Tetap Berdiri di Sampingnya
Kini Sri Wahyuni tidak lagi berjalan sendiri,di balik perjuangannya ada seorang suami yang terus setia mendukung langkah hidup dan kariernya, yakni Ryan Alde Oskar, seorang wiraswasta yang selama ini menjadi tempat Sri berbagi lelah dan penguat di tengah tekanan hidup.
Bagi Ryan, keberhasilan istrinya bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tahu betul bagaimana istrinya berjuang sejak nol.
“Saya tahu bagaimana istri saya berjuang dari dulu. Banyak yang meremehkan, tapi dia tidak pernah membalas dengan marah. Dia membalas semuanya dengan kerja keras dan doa. Saya bangga mendampinginya sampai hari ini,” ujar Ryan.
Kalimat itu terdengar sederhana, namun di baliknya tersimpan perjalanan panjang tentang kesetiaan, perjuangan rumah tangga, dan mimpi yang dibangun bersama dalam keadaan yang tidak selalu mudah.
Dari Anak Penambal Ban Menjadi Inspirasi
Kini, perempuan yang dulu pernah dicemooh karena anak seorang penambal ban itu berdiri di hadapan para pelajar sebagai sosok inspiratif. Di PKBM Markazul Qur’an Sumatera Barat pagi itu, Sri Wahyuni tidak hanya hadir sebagai pegawai Rutan Kelas IIB Padang Panjang atau tenaga kesehatan.
Ia hadir sebagai bukti hidup bahwa masa depan tidak pernah ditentukan oleh pekerjaan orang tua. Bahwa anak dari keluarga sederhana tetap bisa tumbuh menjadi pribadi terdidik, mandiri, dan dihormati. Dan bahwa luka masa kecil kadang bukan untuk menghancurkan seseorang, melainkan untuk membentuknya menjadi lebih kuat.
Di hadapan para pelajar itu, Sri Wahyuni seperti sedang menitipkan satu pesan yang tak perlu diucapkan panjang-panjang. Bahwa hidup mungkin tidak selalu adil sejak awal, tetapi Allah selalu memberi kesempatan bagi mereka yang tidak berhenti berjuang. (RO)
