HEADLINE
Mode Gelap
Artikel teks besar

Terapi Spritual Emotional Freedom Technigue (SEFT), Harapan Baru Redakan Kecemasan Pasien Hemodialisa

 


Penyakit ginjal kronis atau Chronic Kidney Disease (CKD) menjadi salah satu masalah kesehatan yang membutuhkan penanganan jangka panjang. Pada kondisi ini, pasien harus menjalani terapi pengganti fungsi ginjal, salah satunya melalui prosedur Hemodialisa. Meski mampu mempertahankan kehidupan, terapi ini tidak lepas dari berbagai dampak, baik secara fisik maupun psikologis.

Hemodialisa umumnya dilakukan secara rutin dan dalam durasi yang cukup lama. Kondisi tersebut kerap menimbulkan tekanan emosional pada pasien, salah satunya adalah gangguan kecemasan. Rasa cemas ini muncul akibat ketergantungan pada mesin, perubahan gaya hidup, hingga kekhawatiran terhadap kondisi kesehatan yang tidak pasti.

Salah satu penelitian terbaru yang menarik perhatian adalah penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti dari Fakultas Keperawatam Universitas Andalas berupa studi kasus yang dilakukan disalah satu RS di kota Padang. Penelitian ini berfokus pada penerapan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) sebagai intervensi non farmakologis untuk mengurangi kecemasan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisa. SEFT merupakan metode terapi yang menggabungkan pendekatan pikiran dan tubuh (mind-body), dengan cara memberikan ketukan ringan pada titik-titik meridian tubuh yang diyakini berkaitan dengan aliran energi. Selain itu, terapi ini juga melibatkan unsur spiritual untuk membantu pasien mencapai ketenangan batin.

Dalam penelitian tersebut, metode yang digunakan adalah studi kasus berbasis evidence based nursing, yang menekankan pada pemberian asuhan keperawatan berdasarkan bukti ilmiah. Terapi SEFT diberikan selama tiga hari kepada pasien yang mengalami kecemasan sedang. Hasilnya menunjukkan perubahan yang signifikan. Tingkat kecemasan pasien yang diukur menggunakan instrumen Hamilton Rating Scale for Anxiety (HARS) mengalami penurunan dari skor 25 (kategori sedang) menjadi 16 (kategori ringan). Penurunan ini mengindikasikan bahwa terapi SEFT efektif dalam membantu mengurangi kecemasan pasien.

Temuan ini memberikan angin segar bagi praktik keperawatan, khususnya dalam menangani aspek psikologis pasien CKD. Selama ini, penanganan kecemasan sering kali berfokus pada terapi farmakologis. Namun, pendekatan non farmakologis seperti SEFT terbukti dapat menjadi pelengkap yang aman, mudah diterapkan, dan minim efek samping.

Lebih dari itu, terapi ini juga memberikan ruang bagi pasien untuk lebih terlibat dalam proses penyembuhan dirinya sendiri. Dengan kombinasi relaksasi fisik dan pendekatan spiritual, pasien tidak hanya merasa lebih tenang, tetapi juga lebih mampu menerima kondisi yang dihadapi. Para perawat diharapkan dapat mulai mempertimbangkan penerapan terapi SEFT sebagai bagian dari intervensi keperawatan, khususnya bagi pasien yang menjalani hemodialisa. Pendekatan holistik yang mencakup aspek fisik, psikologis, dan spiritual dinilai semakin relevan dalam meningkatkan kualitas hidup pasien dengan penyakit kronis.

Di tengah kompleksitas penanganan CKD, inovasi sederhana seperti SEFT menunjukkan bahwa sentuhan empati dan pendekatan menyeluruh dapat memberikan dampak besar. Kini, tantangannya adalah bagaimana praktik ini dapat diadopsi lebih luas dalam pelayanan kesehatan, sehingga lebih banyak pasien yang merasakan manfaatnya.

Dengan hasil penelitian ini, diharapkan agar tenaga perawat mampu mengintegrasikan terapi Spiritual Emotional Freedom Technique (SEFT) sebagai bagian dari asuhan keperawatan holistik, khususnya dalam menangani kecemasan pada pasien Chronic Kidney Disease yang menjalani Hemodialisa. Perawat diharapkan tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga lebih peka terhadap kebutuhan psikologis dan spiritual pasien. Selain itu, perawat diharapkan dapat meningkatkan kompetensi melalui pelatihan berbasis evidence based nursing agar mampu menerapkan intervensi nonfarmakologis secara tepat dan efektif. Dengan demikian, kualitas pelayanan keperawatan dapat meningkat, serta memberikan dampak positif terhadap kenyamanan, ketenangan, dan kualitas hidup pasien secara menyeluruh.

Artikel selengkapnya dapat diakses pada DOI: http://dx.doi.org/10.30633/jkms.v16i2.3363

Oleh: Ns. Yuanita Ananda, M.Kep

Fakultas Keperawatan Universitas Andalas