CEO ALKO Lakukan Kunjungan Dan Silaturahmi Dengan Menteri PPN/Bappenas
Jakarta – CEO ALKO (Alam KORINTJI), Suryono, melakukan kunjungan dan silaturahmi strategis ke kantor Kementerian PPN/Bappenas dan bertemu langsung dengan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rahman Pambudi. Pertemuan tersebut membahas berbagai isu penting terkait penguatan koperasi modern, pengembangan komoditas kopi berbasis petani, serta peluang kolaborasi dalam program pembangunan ekonomi nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Suryono menyampaikan perkembangan berbagai program yang telah dijalankan ALKO sebagai koperasi berbasis komunitas petani yang mengembangkan model bisnis dari hulu hingga hilir dengan orientasi ekspor. Model ini menghubungkan petani, pengolahan produk, manajemen rantai pasok, hingga akses pasar internasional dalam satu ekosistem usaha yang terintegrasi.
Salah satu agenda yang dilaporkan dalam pertemuan tersebut adalah rencana perluasan ekspor kopi ke pasar Eropa, khususnya Italia, yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan konsumsi kopi dunia. Selain itu, ALKO juga tengah mempersiapkan partisipasi dalam kegiatan promosi dan pameran produk di Malaysia sebagai bagian dari strategi memperluas jaringan pemasaran di kawasan Asia Tenggara.
Langkah ekspansi ini menjadi bagian dari upaya ALKO untuk memperkuat posisi kopi Indonesia di pasar global sekaligus meningkatkan nilai tambah produk yang dihasilkan oleh petani. Dengan membuka akses pasar baru, diharapkan semakin banyak petani yang terlibat dalam rantai pasok ekspor sehingga dampak ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat di tingkat desa.
Selain membahas agenda ekspor, diskusi juga menyoroti pentingnya pembangunan koperasi berbasis data sebagai fondasi baru dalam penguatan ekonomi rakyat. Dalam paparannya, Suryono menjelaskan bahwa pengelolaan data petani, lahan, produksi, hingga rantai pasok merupakan kunci dalam membangun koperasi modern yang transparan, akuntabel, dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan pasar global.
Menurutnya, sistem data yang kuat akan memudahkan berbagai proses penting seperti penelusuran produk (traceability), akses pembiayaan bagi petani, perencanaan produksi, hingga pemenuhan standar regulasi internasional. Model ini juga dinilai selaras dengan berbagai tuntutan pasar global yang semakin menekankan aspek keberlanjutan, transparansi, dan kepastian asal produk.
Dalam pertemuan tersebut, ALKO juga menyampaikan kesiapan untuk berperan sebagai mitra offtaker dalam program perluasan pengembangan kopi nasional yang melibatkan koperasi dan petani di berbagai daerah. Dengan pengalaman dalam mengelola rantai pasok kopi dari hulu hingga pasar ekspor, ALKO dinilai memiliki kapasitas untuk membantu menyerap produksi petani sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas.
Sebagai offtaker, ALKO dapat berperan dalam memastikan kualitas produk, stabilitas pasar, serta memberikan pendampingan kepada petani dan koperasi agar mampu memenuhi standar perdagangan internasional.
Menteri Bappenas dalam pertemuan tersebut juga memberikan arahan agar ALKO dapat berkolaborasi dengan program KMP dalam penguatan ekosistem koperasi di berbagai daerah. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas dampak dari model yang telah dijalankan ALKO di Kerinci.
Pengalaman ALKO dalam membangun koperasi berbasis petani, memperkuat rantai pasok, serta membuka akses pasar ekspor dinilai dapat menjadi contoh praktik baik yang dapat direplikasi oleh koperasi di provinsi lain di Indonesia. Dengan pendekatan kolaboratif, model pengembangan koperasi yang telah berhasil dapat diduplikasi sehingga mempercepat penguatan ekonomi berbasis koperasi secara nasional.
Selain itu, Suryono juga mengusulkan pembentukan program inkubator koperasi yang bertujuan memperkuat kelembagaan koperasi serta membantu pengembangan model bisnis yang lebih terarah dan terukur. Inkubator tersebut diharapkan dapat menjadi wadah pembinaan bagi koperasi yang sedang berkembang agar mampu meningkatkan kapasitas manajemen, inovasi usaha, pengolahan produk, hingga akses pasar.
Program inkubator ini juga dinilai penting untuk memastikan koperasi tidak hanya kuat secara kelembagaan, tetapi juga memiliki strategi bisnis yang jelas dan berkelanjutan.
Pertemuan tersebut sekaligus membuka peluang untuk membangun kemitraan strategis antar koperasi di berbagai daerah, dengan ALKO sebagai salah satu model pengembangan koperasi berbasis komoditas yang terintegrasi dengan pasar global. Melalui kemitraan ini, transfer pengetahuan, pengalaman usaha, serta inovasi pengelolaan koperasi dapat dilakukan secara lebih sistematis.
Melalui dialog ini, ALKO menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam penguatan koperasi modern di Indonesia koperasi yang tidak hanya berfungsi sebagai lembaga ekonomi anggota, tetapi juga sebagai penggerak pembangunan desa, peningkatan kesejahteraan petani, serta penguatan posisi Indonesia dalam perdagangan komoditas global.
